Film Tanah Ibu Kami: Tentang Perempuan, Perjuangan dan Lingkungan
Isu kesetaraan
gender masih terus bergulir. Aktivis dan penulis konsisten menuangkan
pemikiran-pemikiran dan perjuangan untuk membela hak-hak perempuan, baik dalam
ruang domestik maupun publik. Perjuangan itu belum sampai pada puncaknya,
karena masih ada saja sekelompok orang
yang belum atau bahkan tidak mau menerima kesetaraan gender dalam hidupnya. Dari
sekelompok itu tak sedikit ada perempuan
yang ‘terlanjur’ merasa nyaman-nyaman saja dan tidak sadar bahwa kebebasan
berpikirnya telah dirampas.
Namun, dalam film
dokumenter berjudul “Tanah Ibu Kami” aku menjumpai perempuan-perempuan yang
mempunyai keberanian untuk memperjuangkan kekayaan alam tanah kelahirannya. Febriana
Firdaus, seorang jurnalis lepas melakukan penelitian setidaknya di lima daerah di
Indonesia. Perlawanan yang dilakukan kelompok perempuan memang jamak di
Indonesia. Banyak perusahaan besar yang mengeksploitasi kekayaan alam yang
berdampak adanya kerusakan lingkungan. Dalam kisah perjuangan ini perempuan
menjadi garda terdepan. Menjadi pemimpin penolakan. Namun, untuk sampai di
titik itu dibutuhkan perjuangan yang amat keras hingga perempuan mampu menembus
batas-batas patriarki. Karena seperti yang lazim diketahui, budaya Indonesia masih
kental sekali dengan budaya patriarki, misgini dan subordinasi.
Febriana memulai perjalanan
dari pegunungan Kendeng. Tepatnya di daerah Rembang, Jawa Tengah. Bertemu dengan
para perempuan pemimpin aksi perlawanan pembangunan pakbrik semen raksasa yang
menyebabkan kurangnya air bersih dan kerusakan lingkungan. Bagi warga Kendeng,
gunung adalah ibu bumi, yang memelihara dan mencukupi kebutuhan lahan
pertanian. Salah satu yang menjadi juru bicara adalah Sukinah, petani Kendeng. Sukinah
menuturkan tujuan perempuan menjadi pemimpin aksi agar dalam perjalanan
demonstrasi tidak terjadi aksi yang anarkis dan kekerasan-kekerasan. Kartini-kartini
Kendeng melakukan serangkaian protes terhadap pemerintah, mereka menyemen kakinya
di depan istana merdeka berharap ada perhatian lebih pemerintah kepadanya. Namun,
aksi penolakan tersebut tidaklah mudah, karena hingga memakan korban jiwa. Kekerasan
fisik dan psikis kerap kali dilakukan oleh aparat dan preman yang menjaga
pabrik semen itu. Dan yang paling pahit dari kisah perjuanagn para kartini
Kendeng, ada salah satu rekan seperjuangan mereka yang pulang tinggal nama.
Dibelahan daerah lain Febriana menemui Lodia Oematan. Ia adalah
perempuan yang mempunyai andil besar atas penolakan penambagan di pegunungan
Mollo, Nusa Tenggara Timur. Waktu itu ratusan perempuan melakukan aksi menenun
di gunung batu. Tentu saja perlawanan itu mendapat serangan dan kekerasan dari
pihak tambang. Pada tahun 2007, akhirnya para warga adat Mollo berhasil
menangkal pertambangan. Namun, perjuangan itu dibayar dengan luka fisik, cedera
hingga luka psikis bagi Mama Lodia dan mama-mama lainnya.
Lalu Febriana menemui Aleta Baun, anak dari kepala suku yang
menjadi penggagas protes hingga ia mendapatkan penghargaan internasional. Aleta
tidak menyangkal bahwa ia adalah anak kepala suku, namun posisi itu tidak serta
merta membuat Aleta mempunyai privilej sehingga bisa memobilisasi masa untuk melakukan
aksi penolakan tambang. Alasannya adalah karena Aleta adalah seorang perempuan.
Di Mollo tidak lazim perempuan mendapat mandat untuk berjuang ranah publik. Namun,
bersamaan dengan perjuangan Aleta para tokoh memahami hak-hak peremuan dalam
ranah publik. Karena, pada masa kini perempuan juga memiliki potensi yang sama
dengan laki-laki. Lagi-lagi aku menemukan perjuangan perempuan pembela keadilan
yang tersendat oleh budaya patriarki daerah setempat.
Bagi Aleta alam harus dilindungi dan dilestarikan. Bukan semata-mata
itu sebagai sumber kehidupan, namun lebih dari itu Aleta menyebutkan belajar
yang paling akurat adalah belajar dari alam. “Maka alam adalah tempat belajar
yang sangat unik dan mujarab untuk dipelajari. Dari alam kita mendapat
pengetahuan yang luas” ujar ia. Kata-kata Aleta ini mengingatkanku akan wahyu
yang pertama kali diturunkan, yakni iqra’. Bacalah. Bukan hanya baca
buku-buku saja, namun juga membaca keadaan. Kritis dan tanggap akan sesuatu
yang sedang dibicarakan.
Masih ada lagi perempuan tangguh yang memperjuangkan tanah
kelahirannya, Eva Bande. Perempuan yang mengorganisir para petani Banggai,
Sulawesi Tengah untuk merebut kembali tanah pertanian yang diambil olek
kelompok elite lokal untuk dijadikan bisnis. Perjuangan ini bukan perjuangan
biasa. Para pejuang perempuan harus menyaksikan suami dan anaknya dibawa oleh
aparat untuk ditahan. Eva juga tidak luput dari bidikan aparat, ia dijatuhi
vonis 4 tahun penjara. Di tengah kesedihan yang ditinggal oleh suami, para ibu
mendirikan koperasi dengan bantuan Eva untuk terus menafkahi keluarga dan
menyambung hidupnya. Dengan suami yang ditahan, praktis ibu-ibu tidak mendapat
uang bulanan. Moment itu menjadi peluang untuk mendapatkan penghasilan baru. Yang
lahir murni dari perjuangan perempuan Banggai yang suaminya ditahan oleh
aparat.
Dalam film tanah
ibu kami aku menemukan kisah tentang perempuan dan ketidakadilan. Kisah para
perempuan yang memperjuangkan hak-haknya tentu saja menjadi inspirasi tersendiri.
Lalu memperjuangan hak-hak yang mestinya tidak direbut oleh oknum-oknum untuk kepentingan
finansial. Merusak lingkungan dampak pendeknya adalah mendapat keuntungan. Namun,
lalu bagaimana nasib generasi-generasi mendatang jika sumberdaya telah
dijualbelikan. Padahal manusia ini diciptakan sebagai khalifah fi al-ardl.
Untuk menjaga bumi, bukan malah merusaknya. Kerusakan lingkungan adalah problem
jangka panjang. Aku menemukan betapa di dunia ini rakus sudah menjadi sesuatu
yang maklum dan lumrah dilakukan. Menindas rakyat kecil adalah kegiatan yang
tidak akan terkucil. Di beberapa permasalahan malah sering ditemukan para
pebisnis yang nekat mengeksploitasi lingkungan dan sumberdaya untuk dijadikan
lahan uang di lindungi oleh aparat dan pemerintahan. Ironis bukan sekali hidup
dizaman tak tahu siapa pembela keadilan dan siapa perusak tatanan sosial.
Comments
Post a Comment