Meneladani
Akhlak Terpuji Para Petani
Indoneisa
terkenal dengan negara agraris. Artinya penduduk Indonesia kebanyakan adalah
seorang petani. Ketersediaan pangan ditengah pandemi Covid-19 tidak dirisaukan
pemerintah. Karena musim panen baru saja berlalu. Dan itu berarti lumbung padi
Indonesia baru juga mengembung. Tentu saja dalam hal ini petani adalah orang
yang paling berjasa. Bukan hanya petugas tenaga kesehatan yang menjadi garda
terdepan, petani pun mengambil bagian.
Meskipun pemerintah sering gembar gembor menganjurkan
warga untuk di rumah saja, namun lain cerita dengan petani jelas tidak bisa.
Para petani yang tersebar di desa-desa masih melakukan aktifitas seperti biasa.
Mencangkul, panen padi, tanam padi, mopok galeng hingga
membajak sawah. Corona seolah tak dianggap musuh berbahaya olehnya, lebih lagi
tidak ada pilihan lain. Padahal informasi update pasien
positif corona yang telah dua ribuan baru saja ia dengar via televisi rumah.
Niat untuk meneruskan pekerjaan di sawah maupun ladang tidak surut.
Bertani
merupaka pekerjaan yang sangat berat, berat dalam fisik maupun materi, dan itu
tak bisa disangkal. Meskipun tersengat panas matahari juga tersiram derasnya
hujan, para petani tetap berpendirian teguh dalam merawat tanamannya. Dari sini
bisa kita tarik benang merah jika petani mengajarkan kesabaran yang tiada
batas. Sejalan dengan konsep sabar yang dicontohkan Rasulullah Saw kepada
umatnya.
Tentu
kita tak asing lagi dengan kisah beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif saat
beliau berdakwah di sana. Rasuullah dihina, diejek hingga dilempari batu dan
menyebabkan Rasul luka parah disekujur tubuh. Namun, apakah Rasul membalasnya?
Tidak! sama sekali tidak. Bahkan Rasul mendoakan penduduk Thaif. Begitulah
Rasul mengajarkan konsep sabar yang tiada batasnya kepada kaumnya.
Proses
bercocok tanam hinngga menghasilkan beras yang menjadi makanan pokok masyarakat
Indonesia mempunyai perjalanan sangat panjang. Mulai dari menyemai bibit padi
membutuhkan setidaknya sehari semalam perendaman, lalu dibiarkan selama dua
hari untuk proses perkecambahan. Baru setelah bibit padi mulai berkecambah, bibit
padi mulai disebar.
Sambil
menunggu bibit padi siap tanam, petani tak akan berpangku tangan. Para petani
mempersiapkan lahan yang akan digunakan untuk menanam padi. Persiapan dilakukan
sedemikain rupa agar kualitas padi baik, tentu saja buntut panjangnya berasnya
juga baik. Otomatis kualitas bahan pangan masyarakat juga baik. lagi-lagi
petani mengajarkan akhlak baik pada manusia, yakni giat bekerja dan tidak
bermalas malasan saja.
Setelah kurang lebih 3-4 minggu maka bibit padi siap
ditanam. Dalam tradisi Jawa saat padi telah selesai ditanam maka di pojok sawah
ditaruh cok bakal dan petani mengadakan wiwid. Cok bakal adalah
semacam sesajen yang berisi rempah-rempah, telur dan uang. Sedang wiwid adalah hajatan kecil-kecilan yang diantarkan
pada para tetangga sekitar. Substansi dari cok bakal maupun wiwid adalah sedekah. Bisa dikatakan keduanya
adalah ‘rayuan’ kepada Allah SWT agar tanamannya kelak baik-baik saja hingga
panen tiba. Tentu saja dengan niat semua pekerjaan diserahkan pada Sang
Pencipta. Dalam Islam karakter petani yang seperti ini dengan istilah lain
adalah Tawakal.
Dalam
masa pertumbuhan padi kesabaran petani kembali diuji. Karena disamping padi
beranjak tumbuh juga dibarengi rumput yang tak kalah subur. Petani akan
mencabutinya dengan tekun, ulet dan sabar.
Melihat
padi yang menghijau sejauh mata memandang hingga berisi padi barangkali
menjadi kebahagiaan tersendiri di sudut hati petani. Dan tentu saja ia akan
mengucap syukur tak terkira kepada Sang Maha Kuasa dalam sujud-sujud
panjangnya. Sudah pasti petani mengajarkan kembali tentang akhlak terpuji,
yakni bersyukur atas kenikmatan yang didapatkan. Allah sudah menjelaskan dalam
surat Ibrahim ayat 7. Bahwa siapapun yang bersyukur kepada Allah, niscaya Allah
akan menambah kenikmatan. Sebaliknya, siapapun yang kufur maka Allah akan
mengurang nikmat.
Filosofi
padi semakin berisi semakin merunduk boleh jadi benar-benar dipegang oleh para
petani, pasalnya tiada kesombongan secuilpun jika panen melimpah menghampiri.
Jikalau panen tak semelimpah sawah tetangga sifat iri dengki tak jadi risaunya.
Tetap bersyukur atas karunia yang diberi Allah SWT. Bertani yang dianggap
pekerjaan remeh ternyata malah mengajarkan manusia mendekat kepada Sang Khalik.
Maka benar saja jika konsep IKIGAI –konsep menuju hidup bahagia ala orang jepang-
mencontohkan para petanilah yang mencapai kesempurnaan dengan lengkap langkah
konsep tersebut hingga menggapai kebahagiaan yang hakiki.
~shofia.an~
Blora, 07 April 2020
19.23 PM
Tulisan ini pernah dimuat oleh hidayatuna.com
Josss gandossss
ReplyDelete