Refleksi Kopdar Ngaji Ihya'
Tepat hari Senin
lalu aku dapat kesempatan mengikuti Kopdar Ngaji Ihya’ Ulumuddin bersama Gus Ulil
Abshar Abdalla yang bertempat di
Pesantren Khozinatul Ulum. Ada perasaan senang dan haru, akhirnya aku bisa
menatap langsung Gus Ulil dalam waktu lama yang biasanya aku hanya bisa mengikuti
ngaji Ihya Ulumuddin dan Faishal at-Tafriqoh beliau lewat live saja.
Model ngajinya persis seperti ketika ngaji live, bukan pakai metode
bandongan atau guru membaca dan santri maknani. Seperti biasa, beliau
hanya bawa tablet, membacakan sedikit kalimat dari kitab tetapi dengan
penjelasan yang begitu komperehensif. Barangkali ini model ngaji yang anti-mainstream bagi santri Khozin sehingg mereka terlihat enjoy dan asik menyimak
penjelasan.
Gus Ulil membahas materi ilmu pengetahuan. Materi yang pas untuk
para santri yang memang mereka sedang berjuang mencari ilmu di pesantren. Menurut
imam Ghozali mencari ilmu adalah ibadahnya badan yang tak kasat mata. Lebih lanjut
beliau menjelaskan bahwa badan itu ada dua jenis, badan lahiriah,
artinya badan yang biasa kita buat aktivitas sehari-hari, dan badan bathiniah
yakni badan yang tidak bisa dilihat bentuknya, yaitu jiwa atau hati. Imam Ghozali
menyebut hati adalah lathifah ar-rabbaniah, sesuatu yang lembut untuk
menyambungkan manusia dengan Allah.
Ibadahnya tubuh lahiriah adalah sholat, puasa, haji, dan
ibadah yang sifatnya badaniah. Sedangkan ibadahnya jiwa atau hati yaitu mencari
ilmu. Sudah sangat kita ketahui bahwa mencari ilmu sifatnya wajib ‘ain bagi muslim
laki-laki dan perempuan.
Dalam salah satu hadis disebutkan, malaikat meletakkan sayapnya di
atas orang yang mencari ilmu. Ada pula hadis lain yang menjelaskan bahwa
siapapun yang pagi harinya diawali dengan belajar, meski hanya satu bab
pelajaran, itu lebih baik dari sholat sunnah 100 roka’at. Karena manfaat sholat
sunnah hanya kembali untuk diri sendiri. Sedangkan ilmu, sudah pasti nanti
suatu saat akan bermanfaat untuk orang lain. Maka, tiap orang harus belajar,
dan orang yang berilmu harus menyebarkan ilmunya. Karena ilmu yang bermanfaat
adalah ilmu yang diamalkan. Di zaman serba digital ini, menyebarkan ilmu dapat
dilakukan lewat berbagai platform media sosial yang dimiliki, cara praktis sekali.
Hal penting yang harus diketahui pencari ilmu adalah mencari ilmu
itu harus rekoso. Artinya harus ada perjuangan. Karena kemuliaan
seseorang itu jamak diawali dengan kesengsaraan. Jika kesuksesan dicapai dengan
cara instan tanpa perjuangan, kan tidak ada kisah-kisah motivasi yang dapat
diceritakan kelak.
Yaya.. wkwkwk
ReplyDeleteGajelas loe
Delete